DETIK

 

            Banyak orang mengatakan, ‘Setiap Detik Itu Berharga’, ‘Waktu adalah Uang’, dan ungkapan lain untuk tidak menghamburkan waktu.. Hal-hal kecil yang mungkin dapat kita pikir dapat dilakukan keesokan harinya belum kita tahu akan bisa terjadi lagi, karena tiap detik didepan kita masih menjadi misteri. Dari banyak peristiwa banyak orang menyadari akan pentingnya waktu, tapi sadarkah kita hal-hal sepele yang menurut kita bisa kita lakukan lima menit kemudian, belum tentu kita dapat lakukan? Berawal dari kisah seorang pemuda bernama Peter yang menyadari akan pentingnya tiap detik yang ia jalani tiap harinya. Peter adalah seorang pemuda yang suka menunda segala sesuatu. Seringkali ia diingatkan akan pentingnya waktu lewat seminar, dan nasihat dari banyak orang, tapi tetap saja manusia tak akan percaya sebelum ia merasakannya. Suatu hari ia sedang jalan di tepi pantai dimana sore itu tak banyak orang. Peter suka keheningan, tapi terkadang keheningan membuatnya menjadi kesepian. Tapi raut mukanya yang begitu tenang berubah menjadi kesal karena ternyata ada seorang wanita yang berada dipantai itu juga. Wanita itu berambut ikal panjang, memakai rok terusan berwarna ungu dengan topi pantai diatasnya. Terlihat sangat anggun dengan pemandangan yang indah pula. Ia merasa, bahwa ia tak sendiri dan ia langsung tak merasa nyaman lagi. Segera ia pergi ke tempat lain, tapi mungkin karena terlalu tergesa-gesa ia terjatuh dan sontak membuat wanita itu kaget dan menghampirinya. “Apa kau baik-baik saja?” Tanya wanita itu khawatir. “Ya, aku baik-baik saja sebelum kau datang. Kau baru saja menghancurkan WAKTU sendiriku.”. Karena merasa kesal, Peter segera bangun dan pergi menjauh. Wanita itu pun juga pergi meninggalkan Peter. Saat keluar, ia kembali memikirkan perkataannya. Ia merasa, bahwa ia baru saja, Tanpa sengaja menyakiti hati wanita itu. “Niatnya baik padaku. Ia juga tak tahu aku ingin sendiri. Ini kan tempat umum. Itu wajar jika ada orang lain bukan? Ah, aku akan menemuinya dan meminta maaf.” Pikir Peter dalam hati. Peter bergegas untuk menemui wanita itu kembali. Tapi ternyata ia TERLAMBAT. Wanita itu sudah pergi entah kemana. Lalu ia menemukan secarik kertas yang bertulis “Kuharap kau menimati WAKTU sendirimu”. Dengan penyesalan Peter kembali keluar dan menyesali segala perbuatannya. Tapi tetap saja, tabiat untuk menunda segala sesuatu tetap ada dalam dirinya. Tanpa ia sadari ia sudah melakukan kesalahan yang sama berkali-kali. Tapi ia tak menyadarinya, ia terus menerus membuang waktu.

               Nampaknya, peristiwa pertama belum membuat Peter tergerak sama sekali. Ia tetap saja menunda segala sesuatunya. Mungkin kejadian ini dapat membuat Peter berubah. Suatu hari ia sedang sakit dan ia terlalu asik menonton sehingga lupa untuk cek ke dokter. Dengan keadaan yang terus batuk ia memaksakan dan melupakan untuk meminum obat. Dengan begitu sakitnya makin parah tiap harinya. Tetap saja ia keras kepala. Segala kerjanya tertunda dan segala konsentrasinya buyar. Segala sesuatu yang ia lakukan menjadi tidak beres. Sungguh saat ada waktu luang, ibunya yang merawatnya mengingatkannya untuk pergi cek ke dokter, tapi sepertinya ia tak menghiraukannya sama sekali. Ia hanya berkata “Iya, tunggu sebentar” dan akhirnya? Ia tak pernah pergi ke dokter maupun minum obat pereda sakit. Makin hari suaranya semakin menghilang, tenggorokannya sakit saat makan dan batuk. Disaat itulah ia ke dokter. Tapi ternyata obat sudah tidak mempan lagi padanya, ternyata ia harus melakukan operasi amandel. Memang itu hanya operasi kecil, tapi ia menyadari bahwa Ia tak boleh membuang waktu dan sekarang segala sesuatu menjadi repot. Tentunya juga menyusahkan orang lain. “Seharusnya aku pergi ke dokter sebelum ini terjadi. Aku benci ke rumah sakit, dan sekarang aku harus operasi? Tak adakah solusi lain?” pikir Peter dalam batinnya. Segala penyesalan yang ia rasakan dua kali ternyata tetap saja tak membuat Peter berubah. Tak berubah sama sekali. Menunda sudah seperti RUTINITAS tiap HARI. Pernah juga ia merencanakan untuk mendaki gunung bersama temannya. Teman-temannya menyarankan untuk mendaki gunung satu minggu setelah merencanakannya, tapi Peter memilih untuk mendaki gunung 1 bulan setelahnya. Akan tetapi satu hari sebelum mendaki, Peter jatuh sakit dan tidak bisa mendaki gunung. “Jika aku memilih untuk mendakinya 1 minggu setelah merencanakannya aku tak kan jatuh sakit seperti ini dan aku bisa mendaki.” Banyak sekali penyesalan akan apa yang ia putuskan sebelumnya tapi kita tak dapat memutar kembali waktu bukan? Apa peristiwa yang akan membuat Peter berubah dan tidak menyia-nyiakan SEDETIK pun? Saat malam, Peter kembali teringat dengan kejadian-kejadian yang ia alami untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Ia teringat saat ia dinasihati oleh ibunya “Jangan menunda waktu, kau akan menyesal nantinya” tapi ia tak mendengarkannya. “Waktu adalah harta paling berharga Peter.” Kata Leo teman terdekatnya. Ia mengingat jawaban yang ia selalu katakana “Iya, akan aku coba”, tapi apakah hasilnya? Apa yang ia coba? Ia hanya menyesali, menyesali, dan menyesali. Ia teringat akan wanita yang Tanpa sengaja perkataannya menyakiti hati wanita itu. Ia mengingat akan secarik kertas yang ia temukan. Ia kembali mengingat akan penyesalannya. Ia juga teringat akan operasi amandel yang harus ia jalani karena sudah terlambat dan tidak akan mempan menggunakan obat lagi. Ia kembali teringat akan penyesalannya. Tak lupa saat ia jatuh sakit sebelum ia mendaki gunung karena menundanya. Ia sangat ingin untuk mendaki gunung, tapi akhirnya tak bisa bukan? Dari segala kilas balik akan penyesalannya ia mengerjapkan matanya “Ah, untuk apa aku memikirkan masa lalu? Itu sudah kusesali juga. Sudah, aku tak boleh terlarut dalam masa lalu. Kita harus melihat kedepan bukan?” pikir nya.

          Tanpa ia sadari, saat itu adalah saat terakhir bersama ibunya. PAGI harinya ia bertengkar dan berteriak pada ibunya karena ibunya menanyakannya ini itu yang menurutnya tak penting. Saat SIANG ia tak mengabari ibunya. Ibunya sudah menunggu telpon dari Peter, tapi ia tetap tak menghubungi ibunya. SORE hari ia memilih untuk jogging sendirian di taman dekat rumahnya. Dan larut MALAM ia baru pulang kerumahnya. Saat pagi hari, ibunya tak menyiapkan makanan, ibunya tak terlihat didapur yang biasanya tiap pagi sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Saat mengecek ke kamar ibunya ia mendapati ibunya masih tertidur. “Ibu bangun. Aku lapar” katanya. Ibunya tak menjawab. “Banguun, aku lapar ibu!” katanya dengan nada semakin keras. “Ibu!” Ia mengguncang ibunya yang sudah lemas. Karena terkejut ia langsung memeriksa denyut nadi ibunya yang ternyata sudah tak terasa. Ia baru saja kehilangan ibunya. Peter tersungkur, menangis dengan sedih. Ia baru saja menyadari hal kecil yang ia belum lakukan kemarin yang menjadi tekanan batin dalam hidupnya. Hal yang sepele yang tak pernah terpikirkan. Ia tak mengatakan hal ini sejak ia remaja karena ia malu. Ia hanya lupa mengatakan “AKU MENYAYANGIMU IBU”. Kata yang sudah lama ia rindukan dan sudah lama ia tak ucapkan kembali. Ia menyadari akan segala waktu yang ia buang bersama ibunya, yang seharusnya menjadi waktu bersama ibunya ia pilih untuk sendiri. Ia berfikir “Besok masih bisa kukatakan”, “Besok aku masih bisa minta maaf”. Tapi ia tidak tahu, bahwa saat itulah kesempatan terakhirnya mengatakan hal kecil tapi sangat disayangkan jika tidak mengatakan hal itu. Hal kecil yang menjadi tekanan tersendiri, dan rasa yang terpendam. Dengan memegang tangan ibunya erat-erat ia membisikan “AKU SANGAT MENYAYANGIMU IBU”. Perlahan, reaksi terakhir ibunya adalah meneteskan air matanya. Dari kejadian pedih inilah, Peter menyadari bahwa pentingnya setiap hari, jam, menit, sampai detik dalam hidupnya. Kita belum tahu apa yang akan terjadi 1 jam kedepan, 10 menit kedepan, 5 menit kedepan, dan mungkin 1 detik kedepan. Kita tak tahu jika akan bersin dalam 5 detik kedepan. Setiap detik didepan kita adalah misteri. Setiap saat dalam hidup kita penting dan seringkali kita menyia-nyiakan waktu kita dan terbuang begitu saja. Tanpa kita sadari, kita baru saja membuang harta paling berharga. Tanpa kita sadari kita baru saja membuang sesuatu yang lebih berharga daripada uang, emas, permata, dan apapun didunia ini. WAKTU adalah harta yang langka dan paling berharga, yang tak bisa kau tukar dengan apapun itu, yang tak bisa dikembalikan, dan tak bisa kita jual.

Karya : Josephine Christy/ 7a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *